Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Buspacking Flores : Bajawa dan Suara Emas Aldo

Buspacking Flores : Bajawa dan Suara Emas Aldo

Minibus yang saya naiki tiba di persimpangan kota,kalau mau ke kota Bajawa harus naik angkot  atau ojek.Nggak terlalu jauh juga sih,paling 10 menitan sampai penginapan yang saya tuju,udara sore lambat laut mulai dingin.Bang Megi nama supir ojeknya sudah menawarkan saya untuk berkeliling Bajawa dengan motornya.

Penginapan saya berupa homestay yang tidak memerlukan ac,cuaca kota Bajawa yang selalu sejuk berbeda dengan kota di Flores lainnya.kalau ada yang bilang Flores itu panas dan gersang,tidak semuanya saudara-saudara.Mari datang ke Bajawa
Desa  Bena

Bang Megi memacu motornya menuju rumah adat Desa Bena,desa adat yang masih menjaga budaya leluhurnya cuma karena lokasinya yang dekat dengan kota Bajawa,kampung inilah yang paling banyak pengunjungnya padahal masih ada beberapa desa adat lainnya.


cakep

Kami berhenti sejenak di kampung ini,pengunjung tidak begitu banyak karena hari sudah sore juga.Sore hari kami ingin sunset-an di Bukit Wolobobo ,Bajawa ini alamnya sangat keren,mngunjungi desa bena ,motor melaju membelah hutan dan perkampungan ,Saya ditunjukan Bang Megi lokasi untuk menikmati view Gunung Inerie  namun cukup berbahaya,bebreapa waktu lalu ada yang teerjatuh k jurang katanya.Mengingat perlu perjuangan  menuju tempat tersbut saya urungkan niat,cukup melihat gunung ineri dari bawah,toh nanti juga saya bakal menikmati view gunung inerie dari bukit wolobobo.

Desa Adat Bena

Bukit Wolobobo memang nggak seterkenal desa bena,nggak begitu banyak epada saat itu hanya ada beberapa turis asing .Saya memang sengaja inginn menikmati sunset di bukit ini walaupun pemandangan siang hari pun nggak kalah karena.langit jingga mulai terlihat ketika kami sampai di puncak bukit,
Sunset Bukit Wolobobo

cukup berjalan kaki sebentar dari parkiran motor,Semakin lama esmakin spektakuler viewnya,langit jingga melatarblakangi gunung Ineri dan sebuah bukit disampingnya ,perlahan saya nikmati prosesnya, sambil menghirup udara dingin yang segar,mengangumi ciptaannya yang luar biasa.Ahhh rasanya pingin berlamalama disini apa boleh buat matahari mulai masuk keperaduannya,tanda hari sudah mulai masuk malam,see you tomorrow sunset


Langit Jingga
Letak penginapan saya tidak jauh dari pusat kota didepannya ada warung soto lamongan ,nyebrang dikit ada cafe paling hits  di Bajawa,saking hitsnya saya nggak kebagian kursi,rame banget.Tadinya mau malam mingguan di cafe itu, nggak jadi  karena kecapekan abis explore akhirnya internetan aja di kasur,pengen ngobrol sama bapak yang punya homestay eh doi lagi teler kayaknya lagi mimik-mimik sopi.

Gunung Inerie


Mata udah kriyep-kriyep tapi  suara live music dari kafe sebelah jedar jeder entah kafe yang mana.Suara penyanyinya terdengar familiar,suaranya berat,keren dan asyik.Eh bener dugaan saya ternyata suara Aldo pemenang the voice indonesia 2018 dari team Armand yang memang berasal dari Bajawa.wah malam itu saya dininabobokan oleh suara emas Aldo.



Buspacking Flores : Singgah di Aimere,Gagal ke Mausui

Buspacking Flores : Singgah di Aimere,Gagal ke Mausui

Seharusnya dari Ruteng saya berlanjut ke Bajawa,tapi saya tergiur cerita salah salah satu staff centro hostel bahwa ada tempat yang keren namanya Savana Mausui yang akan dilewati jalur transflores.Kembali saya naik travel gunung mas yang cocok dengan waktu saya meninggalkan Ruteng.Dieprjalanan saya menelpon sebuah penginapan yang berupa resort yang nggak jauh dari Savana Mausui.Harganya nggak masuk budget saya,jadi saya memutuskan menginap di Aimere kota  yang terdekat .Dengan harapan bisa ke savana  tersebut keesokan harinya.
 
travel Ruteng Bajawa

Perjalanan darat rute Ruteng Bajawa sungguh melelahkan ,belum sampai Aimere aja sudah kelelahan dengan jalan yang berbelok belok turun naik,maka keputusan saya tepat untuk beristirahat sejenak,lagipula Aimre terdengar seksi dan jarang orang yang singgah.
 

Tujuan saya kali mau menginap di penginapan Agogo yang letaknya persis di jalur trans flores,angkutan umum lewat depannya .Sore hari saya baru tiba di Aimere.Dan benar minibus berhenti persis di depan penginapan.Tapi saya kaget ada apa rame rame di depan pnginapan,banyak kursi kursi dan ada tenda segala.Ternyata setelah saya tanya dengan orang sekitar bahwa pemilik penginapan Agogo baru saja meninggal dunia,innalilahi.Sayapun kebingungan mencari penginapan lain karena saya tidak mempersiapkan penginapan cadangan,untungnya ada ibu ibu baik hati yang menunjukan penginapan terdekat.
 

Penginapan pertama saya datangi,pemilik ataupun pengurusnya tidak ada ditempat ,oklah saya tunggu.Buuuh nunggunya lama bener,saya udah nggak sabaran.Nggak jauh ada pula penginapan lain,jadi saya langsung check in saja .Penginapan lumayan ramai karna besok pagi ada ferry ke Kupang jadi penduuduk lokal flores barat dan tengah  yang mau kKupang lewat laut lebih efisien lewat kota ini.Ferry dari Aimere melayani jalur Sumba dan Kupang tapi tidak tiap hari

Pantai Aimere

Aimere kotanya sepi sekali,saya yang malam malam kelaparan harus menembus gelap untuk mendapatkan warung makan untunglah saya masih mendapatkan warung jawa yang masih buka,nggak ada yang bisa dilakukan disini selain beristirahat dengan cepat,
 

ASDP ferry

Sebelum mencari info tentang Mausui,pagi pagi saya sudah nongkrong di pelabuhan melihat hiruk pikuk orang yang mau berangkat atau tiba ,suatu aktifitas yang saya suka ,ada aja ssuatu hal baru e yang saya dapatkani.Dan betul saja ,saya menemukan penjual buah mangga yang rasanya beda dengan mangga yang ada di Jawa,ternyata di Aimere juga penghasil mangga selain penghasil Sofi (arak tradisional)

 

Mausui letaknya lumayan jauh dari Aimere,perlu ojek ,saya berharap ada tukang ojek yang sering lalu lalang seperti di Labuan Bajo atau di Ruteng,ternyata tidak berlaku disini saudara-saudara.Kendaraan yang melintas hanya satu dua saja.Satu jam lebih menunggu tukang ojek tidak dapat,malah saya melihat minibus jurusan Bajawa yang sedang singgah di restoran padang.Akhirnya saya urungkan niat ke padang savana Mausui,sekedar menghibur diri ,ya nanti juga bisa balik kapan-kapan,jadi ada alasan kalau mau ke Flores lagi.betul nggak?



Jembatan Gantung Situ Gunung

Jembatan Gantung Situ Gunung


Hampir 4 bulan mendekam di rumah karena pandemi,hasrat jalan-jalan belum tersalurkan akhirnya diminggu pertama dibulan Agustus beberapa teman  mengajak piknik tipis-tipis ke situ gunung sukabumi dengan maksud mengunjungi suspension bridge yang merupakan jembatan gantung terpanjang di Indonesia.Dengan mengucap Bismilah dan berharap tidak ada kejadian yang tidak mengenakkan sambil mematuhi standard protokol kesehatan tentang covid-19,maka berangkatlah kami.



Mengingat Sukabumi merupakan salah satu kota termacet di Jawa,kami hanya akan mengunjungi suspension bridge dan kalau sempat akan ngopi-ngopi di Kopi Daong yang letaknya searah.Eh..tapikan Sukabumi sudah ada jalan tol yang menghubungkannya dengan Kota Bogor,wah.. tambah semangat aja kami.Memang pengalaman saya beberapa kali ke Sukabumi macetnya emang kurang ajar,jadi saya agak-agak trauma dan males banget kalau harus kesana,
 





Mending cari tempat wisata lain,tengah malam aja macet apalagi kalau jam sibuk.Nah,makanya dengan adanya jalan tol ini membuat perjalanan makin singkat,yakin?

Jam 8 pagi kami sudah mulai jalan dari daerah Pasar Rebo,Jakarta Timur,mobil sewaan yang kami naiki meluncur tanpa hambatan melewati Bogor,Ciawi dan  dan akhirnya Sukabumi.Eitss ..jangan salah ,ujung jalan tol ini baru sampai Cigombong ,sudah masuk Sukabumi sih tapi masih jauh banget dari Sukabumi Kota,masih sepertiga perjalanan lah.Lepas dari Tol mobil kami di hadang beberapa kali kemacetan terutama kalau melewati pasar atau perempatan.

Untuk menuju kawasan SituGunung mudah aja kok,tinggal ikutin jalan utama ,jangan lupa pake google maps ,sebelum Sukabumi kota ,kendaraan kami berbelok persis di samping Polsek Cisaat dan mulai jalan mendaki  sampai gerbang masuk kawasan situgunung.Akhirnya kami sampai juga kira-kira 3 jam perjalanan termasuk istirahat sebentar di indomaret, tapi kali ini kurang beruntung karena hujan turun persis ketika kami sampai di pintu masuk kawasan situ gunung ,sambil menunggu hujan berhenti kami makan-makan dulu dan harga makanan di kawasan tersebut sangat terjangkau.

Kami memaksakan diri untuk ke suspension bridge ditengah gerimisnya hujan,untuk menuju ke sana kita diharuskan trekking dulu atau kalau yang nggak mau capek ada tiket VIP seharga 100 ribu rupiah sudah termasuk pengantaran dan penjemputan ke titik terdekat dan titik semula
,sedangkan tiket masuk reguler 50 ribu rupiah  sudah snack dan kopi/teh.

Wisata suspension bridge ini dikemas sangat oke,apalagi di zaman pandemi ini. Tempat cuci tangan ,hand sanitizer dimana-mana  sekaligus kita dikasih masker kain.Pintu masuknya menggunakan scan barcode yang berupa gelang kertas,aneh juga sih melihat beberapa hal digital di tengah hutan belantara


Setelah memindai barcode  pengunjung disuguhkan snack tradisional yaitu pisang dan singkong rebus beserta minuman hangat ,minumnyapun di kursi kursi penonton yang pada saat itu lagi nggak ada pertunjukan budaya fyi biasanya ada pertunjukan budaya Jawa Barat yang dieslenggarakan tiap weekend.Ngopi ngopi sambil menyantap singkong dan pisang rebus  di tengah hutan belantara apalagi sehabis hujan kok rasanya nikmat banget ya,luar biasa.


Bangku penonton

Pilihan snack



Selesai ngopi kami trekking kembali menikmati hutan yang basah karena hujan tapi jalan setapak yang kami lalui nggak becek sama sekali,beberapa pohon terlihat dinamai dengan nama latin ,bisa buat wisata edukasi juga nih .Akhirnya kita sampai di mulut jembatan gantung .beberapa petugas siap siaga dengan alat keselamatan dan tak lupa membatasi pengunjung untuk berada di jembatan gantung agar  tidak sampai melebihi daya tampung dan cocok banget pas masa pandemi begini yaitu social distancing dan tidak berkerumun.


Alat keselamatan ditaruh dipinggang semacam tali ber-carabiner, jika seseorang tiba tiba ketakutan ketika ada angin kencang,carabiner bisa dikaitkan di pagar jembatan,ok sampai sini sangat salut kepada pengelola.



Klimaksnya memang melewati jembatan gantung ini,sedkit memacu adrenalin ,beberapa orang juga bahkan nggak berani melewati jembatan ini,goyangan cukup berasa apalagi kalau angin berhembus kencang,intinya jalan lurus saja dan fokus bagi yang parno.Bagi yang suka memacu adrenalin sih pengalaman melewati jembatan gantung menjadi biasa aja,malah kesempatan ini digunakan untuk foto foto .

Suspension bridge

Setelah melewati jembatan,pengunjung dihadapkan pilihan mau balik pulang atau melanjutkan perjalanan sampai ke curug sawer.Untuk menuju curug sawer pngunjung harus melakukan terkking lagi.Jangan takut trekking bikin kita happy kok ,apalagi banyak flora fauna yang jarang kita lihat,Saya sangat terhibur dngan atraksi Lutung Budeng yang bergelayutan di pohon-pohon yang besar.





Akhirnya kami tiba di Curug Sawer,yang kala itu airnya sangat deras karena habis diguyur hujan.Kesegaran udara di Situgunung ini lumayan untuk melarikan diri setelah beberapa bulan di rumah saja.Saya sudah 2 kali ke curug ini setelah 10 tahun yang lalu,kawasan Curug Sawer ini sekarang makin bagus dari akses jalan dan juga fasilitas yang memadai.Tersedia pula ojek yang akan mengantar kita ke depan pintu gerbang apabila kita sudah kelelahan.
 
curug sawer






Setelah bersenang senang didaerah pegunungan,kembali kami dihadang kemacetan ,yang tadinya kami mau mampir ke Kopi Daong nggak jadilah,menjelang malam aja kami masih stuck di Sukabumi.

Perjalanan pulang macetnya gila-gilaan mmbuat mood kami berubah jadi jelek,Untunglah kami mncari jalan tikus bermodalkan googlemaps dan sukses,kami hanya ikuti jalan-jalan kcil yang bersisihan dengan jalan utama,dan ketika masuk jalan utama eh nggak tahunya lokasinya nggak jauh dari mulut pintu tol.


Kecapekan trekking dan suasana macet sebelum pulang ke rumah, kami mencari tempat makan yang enak biar mood jalan -jalannya terjaga aja ,sekaligus balas dendam atas kemacetan itu haha,lagipula kami jarang bertemu.Hari itu kami tutup dengan makan besar di Resto Lemongrass yang ada di Bogor,puas bangtet







Buspacking Flores : Ruteng dan Sawah Laba-laba

Buspacking Flores : Ruteng dan Sawah Laba-laba


Setelah mengexplore Labuan Bajo perjalanan saya lanjutkan ke kota berikutnya yaitu Ruteng.Untuk menuju kesana saya pilih travel Gunung Mas ,sebenarnya saya mau naik bus reguler yang biasa dipake penduduk lokal,namun pemilik guesthouse yang saya inapi menyarankan untuk naik travel ini, karena bisa menjemput di penginapan dan walaupun mereka orang lokal pun nggak tahu kalau bus reguler berangkat jam berapa dan naik darimana.Jadi kesimpulannya untuk naik kendaraan umum di pelosok-pelosok Indonesia tanyalah langsung ke terminal atau orang-orang lokal yang biasa berpergian dengan kendaraan umum atau googling ,biasanya pejalan yang menulis perjalanannya dengan angkutan umum lebih manjur infonya.Oh..iya saya lbih mnyukai naik kndaraan umum yang sring dipakai penduduk lokal selain harga nya yang merakyat dan pasti banyak cerita dan kejadian kejadian yang menarik untuk diceritakan kembali

salah satu view memasuki kota Ruteng

Sedih rasanya meninggalkan Labuan Bajo yang indah ,namun  kejutan lain mungkin menanti di kota berikutnya .Ruteng namanya ,begitu jarang terdengar oleh para pelancong lokal,lebih ngetop Waerebo .Belakangan ini namanya mulai kedengeran lagi berkat Betrand Peto anak angkat presenter terkenal Ruben Onsu yang berasal dari sini ,walaupun desa nya masih 20 km jauhnya dari  pusat kota Ruteng.Kota ini  hanyalah kota persinggahan,kebanyakan pelancong dari Labuan Bajo langsung ke Waerebo padahal kota ini enak banget untuk beristirahat setelah mengeksplor darartan Flores misalnya.


cakep ya kotanya
.

Berbeda dngan Labuan Bajo yang panas ,kota Ruteng cuacanya sangat bersahabat ,suhuntya berkisar 13°C - 25°C  karena letaknya yang berada di ketinggian 1200 mdpl.Ruteng adalah ibukota Kabupaten Manggarai yang merupakan salah satu lumbung padi di Propinsi Nusa Tnggara Timur ,nggak heran ketika menuju ke kota ini dari arah barat pemandangan berupa sawah sawah hijau terhampar luas begitu juga di pusat kotanya sendiri ,jalan sedikit kita sudah menjumpai sawah berlatar belakang pegunungan Ruteng yang merupakan barisan tujuh gunung.

salah satu gereja di tengah kota Ruteng

Suku Manggarai adalah mayoritas di sini selain itu juga banyak pendatang dari Minang dan Jawa ,kotanya sendiri bernuansa Katholik ,puluhan gereja dan biara ada di kota kecil ini  ,masih ingat ketika virus corona awal awal melanda Indonsia ,nah di kota inilah  diadakan misa pentasbihan uskup  yang sempat menjadi pro kontra walaupun jadi terselenggara

katedral lama

Ada dorm Di Ruteng

Hostel tipe dorm (asrama) mungkin sering kita dengar ketika berada di luar negri,namun belakangan ini juga menjamur di Indonsia itupun di kota-kota besar dan daerah wisata   seperti Jakarta,Surabaya,Yogyakarta dan Bali.


Adalah surprise bagi saya ketika mengetahui ada dorm di Ruteng namanya Centro Ruteng Hostel .Untuk ukuran Labuan Bajo dan ende okelah ,karena di kedua kota ini adalah pusatnya wisata Flores saya sudah nggak kaget lagi.Karyawannya pun jago berbahasa inggris dan mengerti apa yang traveler butuhkan seperti informasi tentang wisata,transportasi dan budaya setempat ,tidak melulu hanya" jualan paket trip".

Lodok 

Tidak Lengkap apabila sudah berada di Ruteng tidak mngunjungi sawah berbentuk sarang laba- laba,Di Manggarai Raya  yang terdiri dari pemekaran kabupaten yaitu Manggarai,Manggarai Barat dan Manggarai Timur ,bukan hanya hasil sawahnya yang menjadi penyumbang beras trbanyak di propinsi Nusa Tenggara Timur namun bentuknyapun unik seperti sarang laba laba atau lodok dalam bahasa lokal.Maksud dan tujuan lluhur manggarai mmbuat Lodok yaitu untuk pmbagian lahan scara adat dimana titik awalnya brada di tngah ditarik lurus kluar ,bagian dalamnya mnympit sampai keluar berbentuk lebar,kayak slice pizza gitu lah.

memandang alam dari atas bukit


sawah laba laba


Saya bersama penduduk lokal motoran mengunjungi Desa Cancar yang merupakan tempat melihat Lodok dari atas bukit cara,akssnya pun mudah nggak jauh dari jalan transflores berbalik menuju Labuan Bajo.Bukit Cara mudah dijangkau hanya terkking sedikit namun menanjak ,nggak sampe ngos ngosan kok.Tiba diatas barulah terlihat kindahan sawah Lodok yang hanya ada satu satunya di dunia  

Buspacking Flores : Labuan Bajo Selayang Pandang

Buspacking Flores : Labuan Bajo Selayang Pandang

Ruang tunggu di Bandara Ngurah Rai,Bali tujuan Labuan Bajo dipenuhi penumpang berpakaian santai.Turis asing berkemeja motif bunga-bunga,bertopi lebar,bersendal jepit tampak mendominasi .Hanya segelintir yang berpakaian formal bahkan nyaris tak ada.Pesawat airasia berbadan lebar menambah mood saya untuk liburan kali ini,dikarenakan saya menyangka bahwa pesawat yang akan saya naiki adalah pesawat baling-baling yang selalu saya hindari ketika bepergian.Pokoknya saat  dipesawat saya semangat banget untuk berlibur walaupun saya sendirian.


Pesawat  mendarat mulus di Bandara Komodo ,Labuan Bajo NTT yang merupakan pintu gerbang untuk mengexplore Kepualauan Komodo dan Pulau Flores.Bandaranya nggak begitu jauh dari area turis,penginapan saya ternyata dekat sekali dengan bandara namanya aileen guesthouse,jalan kaki juga bisa.Untuk yang pengen menyepi tempat ini saya rekomendasi,pemiliknya pun baik sekali,tapi yang suka keramaian lebih baik pilih penginapan di sepanjang Jalan Soekarno Hatta,ya..nggak seramai jalan Legian,Bali sih.\


dermaga

pantai Labuan Bajo


Labuan Bajo merupakan kota  nelayan yang paling berkembang di daratan Flores berbagai macam fasilitas dibangun baik untuk masyarakat setempat maupun diperuntukan kebutuhan turis.Resort-resort maupun hotel mewah sudah berdiri disini,cafe dan club berjejer disepanjang jalan soekarno Hatta.Pada saat saya kesana ruko-ruko perniagaan sedang dibangun bahkan gerai KFC dan starbuck sudah ada disana,mau yang macam  tenda-tenda kuliner malampun ada ,mallpun  sudah ada walaupun kecil .


sunset
Matahari terbenam di pantai Labuan Bajo juga sangat sempurna,katanya di salah satu bar yang letaknya di atas bukit bisa menikmati fenomena indah  ini.Aaah ... di pelabuhan yang gratisan pun juga sunsetnya indah loh ,di dermaga  kampung ujung juga asik ,mau yang agak usaha dikit ,nanjak aja  cari spot yang oke  dan nggak harus nongkrong di cafe,semuanya istimewa.



Kota nelayan 


Labuhan Bajo juga merupakan kota yang kece dilihat dari berbagai sudut dikarenakan kontur kota  yang bertingkat-tingkat .Pusat keramaian turisnya ada di paling bawah ,disinilah terdapat Pelabuhan,pasar dan deermaga untuk kapal kecil.Di bagian atas terdapat perkampungan dan resort-resort mewah,nah dari sini kita bisa menikmati keindahan pulau -pulau kecil disekitar Labuan Bajo.Saya bela-belain panas-panasan demi melihat pemandangan tersebut,sayangnya saya nggak nemu tempat nongkrong yang oke disepanjang jalan jadi saya hanya nikmati sebentar saja sambil ngedumel kepanasan hehehe.




Pantai Pede

Pantai Pede

Nggak jauh dari pusat turis ada Pantai Pede,sebenarnya pantai ini indah dan adem pula cuma seperti biasa pantai yang sering dikunjungi dan aksesnya gampang sudah pasti banyak sampahnya,heran deh.Aduh padahal pantai ini punya air yang bening ,gradasi warnanya juga keren dan banyak pepohonan yang bisa bikin betah ,sayang banget yah!





Buspacking Flores : Indahnya Kepulauan Komodo

Buspacking Flores : Indahnya Kepulauan Komodo

Setelah tahun 2011 saya mengunjungi Flores ,ditahun 2019 saya mengunjunginya lagi tapi kota-kotanya berbeda.Waktu itu saya berjanji akan balik lagi,karena bucket list saya  yang panjang,baru kesampean akhir tahun 2019.Kali ini saya mau mengexplore flores bagian barat dengan highlight Kepulauan Komodo yang kabarnya akan dijadikan wisata premium,mumpung masih belum dan biaya terjangkau maka kesanalah saya,walaupun sekarang sudah termasuk wisata mainstream.

Kepulauan Komodo


Dulu,alasan saya males ke Kepulauan Komodo karena biaya yang cukup tinggi apalagi saya solo traveling,mau ikut opentrip waktunya sering nggak cocok.Jika traveling sendirian kebayang-bayang harus sewa kapal sendiri yang harganya minimal 2 jutaan rupiah dan harus cari traveler lain di Labuan Bajo  untuk nyewa  kapal bareng-bareng,iya kalau ada,kalau nggak ada? padahal Sudah jauh-jauh sampe Labuan Bajo.




kapalnya


Tapi setelah Kepulauan Komoda makin terkenal ,menurut saya semakin mudah untuh menjelajahnya bagi solo traveler.zaman nowbanyak operator-operator tour komodo tanpa harus menyewa kapal,kita tinggal sambangi travel yang berjejer sepanjang jalan soekarno hatta Labuan bajo yang menjual trip setiap hari dengan paket seharian ataupun paket menginap di kapal dengan harga yang terjangkau.Saya agak kaget juga bahwa ada tour setiap hari ,oke berarti kepulauan komodo sudah menjadi tujuan turis dan semakin mendunia .Bukan hanya kapal saya yang berangkat pada hari itu tetapi ada beberapa kapal yang juga akan berlayar .Jadi buat solo traveler jangan takut bengkak budgetnya ketika traveling ke sini.

Sebagai patokan harga yang dijual  untuk daytrip kisaran 500-600 ribuan untuk 4 spot .Pulau Padar yang sangat hits sekarang hampir masuk disetiap paket.Saya mendapatkan paket hopping island lewat internet ,paket seharian seharga 600 ribu dengan mengunjungi Pulau Padar,Pulau Komodo,Pink Beach dan Manta ray point termasuk makan siang , kopi/teh plus snack dan juga jaket pelampung beserta kacamata snorkeling .Sedangkan saya pernah baca ada juga paket 500 ribu tapi dengan tujuan pulau berbeda walau termasuk Pulau Padar.Itu berarti kepulauan Komodo tidak selesai dijelajahi dalam sehari,paling oke memang mengambil paket menginap di kapal.

Pulau Padar


Di kapal hanya ada dua orang peserta trip Indonesia ,saya dan mas andra dari Yogya yang kebetulan sedang menemani turis dari china dan kapalnya pun penuh.Kapal mulai berlayar jam 7 pagi menuju tempat pertama yaitu Pulau Padar.Dari jauh sudah terlihat betapa kerennya pulau ini hingga merapat di dermaga ,disambut pantai dengan latar belakang bukit-bukit gersang dengan gradasi warna yang sempurna  ditambah rusa-rusa yang berkeliaran.Panas terik tak menghalangi kami untuk menuju view point dengan jalan setapak yang menanjak.Tepat diatas, saya berdecak kagum dengan lukisan alam yang terbentang.

jalan menuju view point

Pekerja wisata di Pulau Padar ini saya acungi jempol deh ,hampir ngga ada sampah.Pasalnya di pintu masuk sudah diperingatkan agar tidak membuang sampah sembarangan dan petugas berdiri menyodorkan  kantong plastik besar sebagai wadah tempat sampah baik yang akan naik ataupun baru turun,keren!

Pulau Padar dari atas

Perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Komodo dengan harapan melihat komodo di habitatnya langsung. Setelah mendarat di Pulau Komodo ,para ranger sudah siap menyambut dan  menemani para turis untuk trekking mencari si dragon.Banyak jejak yang ditinggalkan di area trekking.kami melewati gundukan tanah yang merupakan tempat komodo bertelur ,menurut si ranger bahwa orang tua si komodo nggak segan-segan memakan anaknya sendiri,salah satu fakta yang baru saya ketahui.

trekking tipis-tipis

Makanya sebisa mungkin petugas Taman nasional komodo menyelamatkan telur komodo sebelum dimangsa nyokap bokapnya ,sungguh tega .Padahal Kak Seto menggambarkan hewan ini adalah hewan yang imut dan berteman baik bersama Dompu (domba putih),Piko (sapi kokoh),Belu(bebek lucu) yang sewaktu-waktu bisa disantap hahaha

tempat bertelur komodo

Sepanjang trekking kami nggak menemukan Komodo,hanya ketemu kotorannya saja yang berwarna putih.Baru ketika sampai di sebuah restoran bertenggerlah dua onggok  komodo yang lagi gegoleran,yang satunya ngumpet di kolong restoran,yang satunya lagi sedang show didepan restoran.Heran.. sih, ini komodo seneng banget didepan restoran itu,sering banget saya lihat dimedia komodo tersebut sedang berada ditempat yang sama,jadi kesannya kurang alami aja dan nggak kece kalau difoto hehehe.Lain waktu saya mau mengunjungi Pulau Rinca yang merupakan juga habitat asli si dragon mungkin bisa dapat pengalaman yang berbeda.

tempat nongkrongnya komodo

Sepertinya didua tempat pertama perjalanan tour ini sudah sampai klimaksnya,dikarenakan pink beach hanya bisa dilihat dari jauh,kapal nggak bersandar di pantai entah apa alasannya .

Pink Beach
Kami hanya leyeh-leyeh di kapal yang mau snorkeling dipersilahkan dan bisapun berenang sampai pink beach,hari itu entah kenapa saya malas sekali nyebur dan begitupun di spot keempat yaitu Manta rai point yang hanya beberapa orang yang nyebur dan nggak kelihatan manta nya ditambah cuaca buruk menemani kami sampai ke daratan Flores.




Temanggung Keren Banget !

Temanggung Keren Banget !

Mau kemana lo?
Temanggung
hah, ada apaan disana? celoteh seorang teman

Temanggung sudah menjadi bucket list saya dari dulu dari awal tahun 2000an.Gara-garanya ketika saya dan teman-teman trip selama seminggu mengunjungi kampung halaman teman-teman saya .Ketika habis dari Yogya kami mengunjungi Wonosobo yang merupakan kampung halaman salah satu  teman saya.Ketika bus yang kami tumpangi  mulai memasuki kawasan kabupaten Temanggung mata saya nggak berhenti-hentinya memandangi pemandangan alam yang memesona pada saat itu.Jalan yang membelah dua gunung  yang kanan kirinya perkebunan tembakau,wow.Gunung tersebut adalah Sindoro dan Sumbing.

Gunung Sindoro

Baru di tahun 2019  saya berkesempatan mengunjungi Temanggung setelah membaca artikel yang mengatakan bahwa tempat ini harus dikunjungi .Itinerary saya buat seefisien mungkin ,masuk dari Wonosobo pulangnya dari Yogya .Untuk ke Wonosobo  dari Jakarta saya menggunakan kereta pagi yang berhenti di Stasiun Purwokerto,sebenarnya ada bus langsung dari Jakarta ke Temanggung namun keberangkatannnya rata-rata sore hari,jadi sayang waktu yang terbuang.Dari stasiun Purwokerto ada beberapa pilihan menuju Wonosobo,sekarang sudah ada shuttle langsung dari depan Stasiun Purwokerto dengan harga yang lebih mahal daripada naik bus umum yang berangkat dari Terminal Purwokerto.




shuttle bus stasiun purwokerto -Wonosobo

Tiba Di Wonosobo sudah sore hari menjelang maghrib,saya sudah menunggu bus menuju Temanggung,sudah sangat jarang bus yang menuju kesana,ada tapi harus sabar menunggu.Saya putuskan menginap dulu di kota Wonosobo.Penginapan di Wonosobo murah-murah,tinggal browsing dan telponin satu demi satu nanya harganya,karena kotanya kecil ,gampang saja melihat keadaan hotelnya dari luar,yang penting nggak serem ya..kan.Sebuah hotel sederhana nggak jauh dari jalan utama  yang harganya nggak sampe 100 ribu,kini saya inapi.cukup membuat badan saya relax setelah seharian remuk redam,di hotel ini nggak perlu yang namanya AC karena udaranya sejuk nggak bikin gerah,Petra Hotel namanya.Sebelum tidur saya keluar makan malam dulu,menikmati mie ongklok dan sate sapi yang menjadi ciri khas Kota Wonosobo

Alun-alun wonosobo


Jarak antara Wonosobo dan Temanggung tidak terlalu jauh,jalur ini adalah jalur hidup yang biasa dilewati oleh angkutan umum maupun kendaraan pembawa logistik 24 jam.Wonosobo kotanya sangat enak buat liburan makanya saya baru meninggalkan kota ini siang hari,ingin menikmati dululah Jalan-jalan di alun-alun,keluar masuk pasar dan menikmati udara segar.

tembakau

Embung Kledung


Embung Kledung

Tempat wisata ini belum begitu jauh dari Kota Wonosobo tapi sudah masuk wilayah Temanggung,karena saya naik bus umum saya minta diturunkan di gerbang pintu masuknya,sangat mudah untuk menjangkaunya nggak sampai  jalan 500 meter sambil melewati perkebunan tembakau ,kita sudah sampai Embung kledung.Tempat ini sebenarnya adalah empang (kolam besar) biasa ,  mungkin karena saya kesananya cuacanya kurang bagus padahal didepan mata gunung sindoro yang sedang terttutup awan  ,tapi tempat ini salah satu tempat melihat sunset terbaik .

Posong

Tempat ini sangat berkesan bagi saya, berada di desa Tlahab Temanggung.highlight dari posong yaitu melihat detik-detik matahari terbit dengan latar belakang  7 puncak gunung Jawa yaitu Merapi,Ungaran,Sindoro,Andong,Telomoyo,MerbabuMuria,keren kan?
Desa Tlahab
7 gunung

sunrise
.Kita akan disuguhkan lautan awan sambil menanti matahari terbit.Untuk melihat fenomena alam ini,kita diwajibkan sudah berada di gerbang pintu masuk jam 4 subuh karena menuju puncak Posong jalan menaik dan gelap.Yang nggak bawa kendaraan pribadi bisa menginap di Homestay disekitar gerbang masuk dan menyewa ojek ,jalan kaki  pun tak apa asal berangkat lebih pagi lagi.

Posong

Posong

Jembatan sigandul

Masih di desa Tlahab,jembatan ini juga cukup terkenal dan fotogenic.memang nggak ada spot tertentu untuk melihat jembatan ini apalagi banyak kendaraan besar lalu lalangyang  melewatinya .Cuma disekitar jembatan sigandul ini banyak warung-warung kopi tempat berisitirahatnya kendaraan setelah menempuh perjalanan jauh,hal itu nggak saya sia-siakan ngopi-ngopi sambil memandangi gunung Sindoro,kopi sachetan jadi rasa starbuck,Mantap!

jembatan sigandul
ngopi-ngopi

salah satu view
                                                               

Pasar Papringan

Saya kembali ke Temanggung tiga bulan kemudian(sebelum pandemi ) gara-gara mau melihat pasar papringan.Kebetulan saya lagi trip ke yogya dan pas banget pasar papringan diselenggarakan jadi saya melipir ke Temanggung karena pasar ini hanya ada setiap hari minggu wage dan pon (kalender jawa) .Yang menarik adalah pasar ini menjual aneka jajanan pasar yang sudah jarang kita temui  macam getuk telo ungu,buntil ,bajingan (iya.bajingan) dan masih banyak lagi.Bambu atau pring sebagai alat pembayarannya yang bisa ditukar dengan uang di pintu masuk.

aneka jajanan
selain jajanan pasar
aneka jajanan
Letaknya di salah satu sudut Desa Ngadiprono yaitu hutan bambu yang dibuat menyerupai pasar ,untuk menuju kesini. lagi-lagi pengunjung dari luar kota harus menginap dulu di homestay-homestay sekitar desa Ngadiprono karena pasar ini buka mulai pukul 6  pagi sampai pukul 12 siang,kalau kamu kesiangan sih tinggal sisa-sisanya aja.Sekedar tips untuk solo traveler ,saya menginap di Rama hotel yang letaknya di pinggir jalan raya Wonosobo-Temanggung ,memang rada susah kalau nggak bawa kendaraan sendiri karena lokasinya di pelosok desa.Untung ada layanan ojek online,ternyata bisa loh diantar sampai tujuan namun pulangnya saya menggunakan ojek pangkalan.

Pasar Papringan

Berangkat!



ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik